Jumat, 14 April 2017

My Symphony


Sebuah Cerpen

Tidak mudah bagiku untuk begitu saja menyerah pada realita, apalagi mimpi. Ia ada karena kita sendiri yang mengimajinasikannya. Tapi tidak kali ini. Kisah tak biasa ku lalui dalam sebuah cerita singkat di antara salah satu usiaku. Terbilang muda memang. Sebut saja aku Kevin. Nama sederhana yang diberikan ayah kandungku yang sudah lama berpisah dengan ibu. Tepat lima tahun lalu mereka berpisah. Entah karena apa dan dengan sebab apa pula mereka memutuskan perpisahan. Begitu juga aku yang memilih ikut dengan ayah yang terbilang keras dalam segala hal. Tak tahu pula kenapa aku memilihnya untuk tinggal.
Pagi selalu segar menyambut perjumpaan hari pada dunia. Pula perjumpaanku pada realita. Hari-hariku tak begitu ramai di tengah rumah mewah milik ayah, beliau selalu pergi kerja di pagi petang dan kembali pulang di larut malam. Sekalipun hari libur beliau tetap menghabiskan waktunya di kamarnya sendiri sembari mendengarkan lagu klasik. Hingga aku jadi terbiasa dengan alunan klasik yang terkesan elegan.
Sesaat ayah kudapati tiada di kamarnya, lancangku dengan sengaja mengajakku masuk ke kamar pribadi ayah. Tiba-tiba saja rasa penasaran menghampiriku mengenai musik klasik yang selama ini didengarkan ayah. Ku temukan Gramophone antik di atas meja, dengan iseng dan semakin penasaran, aku coba menyalakannya. Dan irama klasik itu mulai terdengar merdu memenuhi ruangan.  
Ada lagi yang menarik perhatianku, semacam sebuah buku ensiklopedia musik klasik karya Muhammad Syafiq tergeletak di atas sofa. Aku terheran dan tak menyangka, ternyata ada pula buku yang membahas musik klasik, aku kira ini hanyalah musik biasa yang tidak terlalu menarik banyak perhatian. Karena penasaranku semakin memuncak, aku buka lembar perlembar halaman buku tebal itu sembari membaringkan tubuh pada sofa yang empuk di ujung ruang. Nada demi nada, alunan klasik itu mulai menyihirku, menyuntikkan bius melalui irama lewat telingaku.
Belum juga sampai setengah halaman, aku pun terlelap dan tak sadarkan diri. Entah perjalanan seperti apa yang membawaku, hingga tiba-tiba saja aku sampai pada suatu tempat yang tak terduga. Salah satu tempat mewah di seluruh dunia. Walt Disney Concert Hall, gedung pagelaran termewah nomer satu dunia yang terletak di Los Angeles, California, USA. Dan yang lebih memukau lagi aku berpakaian jas hitam rapi beserta dasi yang menghiasi leher, dan berada di antara pemain musik klasik di atas panggung. Ada Biola imut tergenggam di tanganku lengkap dengan bownya, dan sepuluh orang di sebelahku juga memegang alat yang sama. Tak jauh dari tempat dudukku ada beberapa pemain yang memegang Cello, mulai dari ukuran sedang hingga yang besar. Di barisan paling depan ada Piano mewah beserta pianisnya. Ada pula Harpa ukuran besar dan gadis cantik yang siap memetiknya. Trombon, Horn, Trumpets dan Saxophone dengan jumlah sekitar sepuluhan memenuhi panggung sebelah kiri. Fagot, Flut dan Klarinet juga tak tertinggal berbaris rapi di sebalah gadis cantik pemain Harpa. Timpani, Maracas dan Castanet pun sama memenuhi panggung sebelah kanan. Semua tertata rapi berkelompok sesuai jenis alat musik masing-masing.
Ada rasa bahagia, heran serta khawatir dan takut pada posisiku saat ini. Pertunjukkan semewah ini, dan aku aku berada di antara pemain-pemain hebat di atas panggung yang megah. Tapi aku sungguh khawatir tidak karuan, mengenal musik klasik pun aku tidak, hanya rajin mendengarkannya di kala ayahku tiba di rumah. Itu pun bukan atas keinginan pribadi. Dan sekarang aku dituntut untuk memainkannya tanpa mengetahui apa-apa.
Kekhawatiranku semakin resah di kala sang Komposer hendak memulai pergelaran. Apalagi ribuan penonton yang memenuhi gedung yang terlihat antusias menyaksikan konser klasik ini. Bayangan menakutkan di pikiranku adalah permainan akan hancur akibat diriku. Kenapa pula aku berada di antara mereka sebagai pemain, sedangkan aku tak tahu menahu tentang klasik, apalagi cara memainkan biola yang tergenggam di tanganku.
Dan tak lama kemudian pertunjukan di mulai. Lelaki sebaya di sebelahku menengok padaku dan melempar senyum, tepuk tangan penonton gemuruh menyambut pergelaran. Semua pemain tersenyum dan sepintas pula aku turut senyum. Sedikit mengurangi kekhawatiran. Tanpa ku sadari kedua tanganku terangkat dan aku pun memainkan biola dengan santai. Entah keajaiban apa yang aku terima, aku pun terpesonan dengan diriku sendiri. Permainanku cukup handal, tak ubahnya dengan pemain-pemain lainnya. Seperti ada roh yang merasuk tubuhku. Pun dengan Komposer itu yang begitu bersemangat menggiring nada melalui tangannya ke kanan dan ke kiri. Canon D Major karya Jhohan Pachelbel mengalun memenuhi gedung megah ini. Seluruh penonton tersihir dan begitu menikmati. Tiga puluh menit berlalu dan permainan usai. Lagi, tepuk tangan penonton gemuruh memecah hening, semua pemain tersenyum dan memancarkan kepuasan tersendiri di wajah mereka masing-masing.
Seketika ada suara laki-laki yang memanggilku dengan lirih. Lagi dan terulang lagi. Aku memjamkan mata dan mendengarkan seksama dari mana suara itu berasal, bagaimana bisa di tengah gemuruh apresiasi penonton aku mendengarkan suara aneh. Memanggil namaku pula. Pandanganku gelap tak terlihat apa-apa, dan ketika ku membuka mata. Sungguh sosok yang tak terduga tepat berada di hadapanku. Aku kembali pada ruang pribadi ayah terbaring lelah di atas sofa dan ternyata ayahlah yang sedari tada memanggil menyadarkanku dari mimpi menakjubkan itu. Ayah pun bertanya mengenai apa mimpi itu, dan terheran ketika melihatku seolah tengah bermain Biola dalam keadaan tidur.
Aku pun menceritakannya, dan semenjak saat itu hubungan kami mulai erat. Ayah bukan lagi sekedar ayah yang bekerja keras pergi pagi pulang malam dan memenuhi seluruh kebutuhanku tanpa sapa tiap harinya. Kini kami lebih akrab dalam berbagi cerita, terutama mengenai musik klasik yang mulai aku sukai. Ada yang memaknai mimpi sebatas bunga tidur, tapi tidak pada diriku. Itulah mimpi yang menginspirasi bagiku, dan jiwaku pun tergugah semangatnya untuk menjadikannya lebih dari sekedar realita. *Choirotul Umayah

KOMUNIKASI KESEHATAN : URGENSI KENYAMANAN OLEH PENYEDIA KESEHATAN


Keberadaan penyedia kesehatan sangatlah memengaruhi kenyamanan pasien. Mulai dari pelayanan resepsionis, pemeriksaan hingga pemberiaan resep obat yang perlu ditembus ke apotik atau tempat pengambilan obat. Berangkat dari pengalaman pribadi mengenai penyedia kesehatan, saya pernah melalui dua kondisi yang berbeda di antara dua penyedia kesehatan yang berbeda pula. Singkat cerita ketika saya sakit dan pergi ke salah satu dokter dekat rumah dengan pelayanan yang terbilang sederhana bagi saya. Kenapa ? karena mulai dari tempat, peralatan medis, pelayanan, proses pemeriksaan hingga memutuskan penyakit apa yang tengah saya rasakan dan pemberian resep obat yang saya terima tidak memberikan kenyamanan.
Katakanlah dokter A ini menyediakan tempat yang kurang steril dan tatanan ruang yang terkesan mainstream. Sejak awal saya masuk ruang tunggu, tempat duduk yang disediakan pun kurang memberikan kenyamanan, mulai dari keadaannya yang kurang layak dan tempat yang terlalu sempit, sehingga mengakibatkan banyak pasien yang menunggu dengan berdiri. Padahal keadaan pasien yang sakit secara psikologisnya akan merasa jengkel ketika dia dalam keadaan sakit dan disuruh menunggu dengan berdiri pula, seakan terkesan tidak memprioritaskan kenyamanan dan keadaan pasien. Dan tidak hanya saya yang merasakan, tetapi pasien yang lain juga pada menggumam di tempat kejadian, hanya saja keadaan saya waktu itu cukup lemah dan tak berdaya hingga tidak bisa ikut nimbrung untuk sekedar menambahi atau menyangga, saya hanya bisa mendengar sembari menyesuaikan dengan realita sekitar.
Dari tempat saja si dokter A kurang bisa menawarkan kenyamanan. Lanjut ke pelayanan kesehatan lainnya, setelah nomor urut antrian saya dipanggil oleh bagian resepsionis, saya menuju ke meja. Ada kekecewaan lagi yang saya peroleh, ekspresi yang diberikan oleh penjaga meja resepsionis kurang menyenangkan. Tanpa sapa atau pun senyuman sekedar ucapan pembuka. Si penjaga langsung meminta kartu nomor urut saya beserta kartu berobat saya. Lebih parahnya lagi dia tidak melihat saya, dia masih saja tetap fokus dengan buku besar yang ada di hadapannya. Di sini kenyamanan saya mulai benar-benar terusik dan sedikit mengurangi kredibilitas klinik sederhana ini. Niat hati berobat di klinik tersebut karena tempatnya yang dekat dengan rumah dan keadaan saya yang mulai parah, sehingga jalan alternatifnya yaitu memilih tempat ini sebagai pilihan.
Saya berusaha menghibur diri dengan berharap si dokter tidak juga menawarkan kekecewaan. Positif thinking dengan keadaan memaksa dikarenakan kondisi yang kurang fit nampaknya tidak begitu efektif dan memberikan pengaruh kurang baik. Pesan yang saya bangun sendiri antara saya dengan diri saya sendiri tidak begitu berhasil, karena saya berusaha melawan realita yang sejak awal saya memasuki klinik ini sudah menunjukkan tanda-tanda kurang memuaskan.
Ruangan sederhana pula dengan tatanan mainstream ruang dokter pada umumnya, saya sudah menduganya tapi tidak seberapa berpengaruh bagi saya. Pemeriksaan pun dimulai. Dan berlangsung seperti biasanya. Tanpa prolog apa-apa si dokter langsung menyuruh saya berbaring di tempat yang telah disediakan. Untuk mempersingkat mungkin saat itu bujuk diri yang saya sampaikan pada diri sendiri. Lagi-lagi komunikasi antarpribadi berperan besar dalam keadaan ini. Selanjutnya si dokter segera mengeluarkan kertas bakal resep obat yang harus saya tebus. Lebih parahnya lagi beliau tidak menanyakan gejala apa yang saya alami, makanan apa yang sebelumnya saya makan, mual atau tidak, pusing atau tidak, dan lain sebagainya. Beliau langsung saja menulis resep obat di atas meja kerjanya. Setelah selesai menulis barulah si dokter menatap saya. Tiba-tiba beliau menyampaikan penyakit yang saya alami. Si dokter bilang saya tengah mengalami setres sedang yang mengakibatkan peredaran darah kurang stabil. Seketika pula saya terkejut dengan pernyataan yang pertama. Padahal sebelumnya saya rasa emosi saya terkontrol cukup baik dan saya juga tidak lagi banyak pikiran yang dapat berpotensi membuat saya mengalami setres.
Saya pun melontarkan pertanyaan “Mengapa dok ? Kok bisa saya mengalami setres?”. Dan lagi, jawaban si dokter saya rasa kurang memuaskan, beliau hanya menjawab berdasarkan kemungkinan, “Mungkin saja anda lagi punya masalah, atau bisa jadi tugas kuliah yang terlalu banyak atau terlalu sulit, problem keluarga juga memengaruhi kondisi kesehatan anda”. Begitulah ujarnya yang saya kira bukan berdasarkan analisis atau pemeriksaan medis. Beliau tidak menjelaskan penyebabnya secara medis, hanya sebatas kemungkinan yang saya rasa bagi orang yang bukan dokter pun bisa menjawabnya. Dari jawaban yang kurang memuaskan tersebut saya berusaha ngeyel dan menanyakan lagi penyebab penyakit saya secara medis, dan jawaban mengejutkan pun terlontarkan. “Saya ini dokter, jadi kalau saya bilang anda setres ya sudah, percaya saja”. Kekecewaan dan emosi semakin memuncak, dan saya memutuskan usai dan segera keluar dari ruangan.
Penebusan obat saya serahkan kepada ibu yang sedari tadi menemani. Saya sudah tidak mau berurusan dengan bagian pelayanan yang kurang baik ini. Obat pun sudah terbeli.
Berlalu satu minggu, sakit saya tak kunjung sembuh. Padahal saya sudah berusaha percaya dan meminum obat secara rutin. Tapi mungkin ada kebohongan pada diri saya sendiri, saya sebenarnya tidak terlalu mempercayai dokter beserta obatnya tersebut. Sakit saya yang masih saja tetap membuat kedua orang tua saya memutuskan untuk memeriksakan ulang ke tempat dokter yang lain. Beliau bilang mungkin saya tida cocok dengan dokter sebelumnya. Sebagian orang mungkin sudah terbiasa mendengar pernyataan serupa. Obat beserta pengobatannya itu tergantung cocok tidak cocoknya seseorang yang sakit dengan dokter tertentu. Mereka bilang jodoh tidak jodoh. Begitulah yang terjadi di lingkungan saya. Dan saya pun hendak membuktikannya.
Berangkat pagi kurang lebih pukul 07.00 wib. Sampai pada sebuah klinik di daerah perumahan. Sebuah klinik yang gabung dengan rumah dokter sendiri. Saya sempat terpesona dengan tatanannya. Pengemasan cover yang baik dan terkesan nyaman sudah ditawarkan di awal. tempat tunggu pasien bukan lagi pada sebuah ruang yang membosankan. Kali ini kursi panjang itu berada di teras rumah dan menyatu dengan taman yang sederhana namun mewah beserta kolam dan ikannya yang lucu. Ada ayunannya juga yang dipakai mainan bagi anak-anak kecil yang turut mengantarkan kerabatnya periksa. Wajah para pasien pun sumringah, saling berbincang ringan sembari menyaksikan air mancur kecil di tengah kolam ikan. Dan seketika pusing kepalaku tak terasa.
Hingga giliran saya akhirnya dipanggil. Saya pun memasuki ruang periksa yang berbeda. Tidak hanya ada meja, kursi dan tempat tidur saja. Tetapi ada shofa, tanaman hias dan lemari yang bukan dari besi. Tidak seperti tata ruang pada umumnya. Desain yang lebih bersahabat dan pelayanan yang baik. Dokternya pun ramah.
Di awal pembicaraan beliau menanyakan kabar, mengenai sarapan pagi ini dan berlanjut pada identitas diri. Kemudian beliau mempersilahkan untuk berbaring di tempat tidur. Masih juga ramah. Dan selesai.
Kembali pada meja dan kursi kita masing-masing. Penyampaiaannya pun begitu tenang. Beliau bilang saya sedang terserang penyakit radang tenggorokan yang berakibat pusing hanya di sebagian kepala saja. Tidak terlalu bahaya memang tapi juga perlu perhatian yang cukup untuk mencapai kesembuhan. Kemudian saya bertanya, “apa saya berkemungkinan setres dok ?”. Beliau pun tertawa ringan dan kembali bertanya, “Siapa yang bilang kamu setres ? tidak, itu hanya gejala ringan. Tidak sampai setres. Amandelmu semakin besar dan mengalami radang tenggorokan. Saya sarankan jangan minum es dulu …..” dan lain sebagainya. Beliau menjelaskan begitu rinci penyebab sekaligus sarannya. 
Ada yang berbeda lagi dari prosedur pemeriksaannya yang saya rasa itu sangat baik. Setelah menjelaskan segalanya, beliau kemudian tidak menuliskan resep obat yang harus saya tebus nantinya. Tapi beliau sendiri yang langsung memberikan obat sekaligus menjelaskan peraturan minum obatnya. Begitulah dan seterusnya. Keramahan dalam ruang membuat saya terpesona dan memberikan energy tersendiri bagi saya. Dan saya rasa mungkin tidak hanya saya saja yang merasakannya, tetapi bagi pasien lain pun sama.
Keluar dari ruangan periksa itu serasa saya sudah sembuh. Memang lingkungan dan keadaan sangat mempengaruhi, begitu juga dengan pelayanannya. Sesampai di rumah, dengan kepercayaan dan kenyamanan yang saya peroleh dari proses pemeriksaan tersebut, saya menjadi rajin minum obat. Dan belum genap tiga hari, Alhamdulillah sakit saya sembuh. Pusing  di sebagian kepala sudah tidak lagi saya rasakan. Dan dengan ini saya semakin faham mengenai pentingnya kualitas pelayanan kesehatan.

Reinkarnasi

Sebuah Cerpen
Penghujung hari selalu menjadi waktu istimewa bagi jiwa yang perlu kontemplasi diri bersama alam sebagai penawar berbagai rasa. Intropeksi sebagai evaluasi terhadap apa yang telah berlalu pada hari ini, sekaligus sebagai waktu pengharapan terbaik bagi apa saja yang hendak terjadi esok. Do’a adalah salah satu cara bagi manusia untuk mengintegrasikan semua itu. Ada permohonan ampun atas segala khilaf, pun permintaan kebaikan di kemudian waktu. Itulah yang dilakukan lelaki itu setiap malam. Hingga hari-harinya pun selalu memiliki kisah menarik dibandingkan dengan manusia lainnya.
Seperti biasanya, baju sudah rapi, pun sepatu yang siap pakai. Lelaki itu berangkat kerja dengan penampilan sederhana. Tak lupa senyum di awal hari selalu menjadi jadwal patennya untuk memulai hari dengan berharap kebaikan. Perjalanan biasa pada rute yang biasanya pula. Ia tak pernah pilih kasih, kepada siapapun yang memerlukan pertolongan akan ia bantu. Tiba-tiba saja kucuran air di tengah perjalanan membasahi sebagian kepalanya. Tanpa menghujat dan mencela, ia hanya tersenyum. Ia temukan tanaman kering yang hendak mati tak berdaya di tengah sekarat membutuhkan siraman. Prihatinnya menggerakkan kedua tangannya untuk memindah tanaman itu tepat di bawah kucuran air itu terjatuh, dan kemudia air tak beraturan itu tumpah menyuluruh, menyiram sebagian dan selanjutnya penuh mengenai seluruh batang-batang kering itu.
Lelaki itu tak merasa rugi sedikit pun, melanjutkan langkahnya. Berjalan begitu santai. Lagi. Ia melihat ibu-ibu jualan yang sedang kesusahan mendorong gerobak dagangan yang terlihat begitu berat. Lelaki itu pun segera menolong tanpa berpikir panjang. Ibu-ibu penjual tersentuh hatinya akan kebaikan hati lelaki sederhana itu. Dan berharap Tuhanlah yang akan membalas kebaikannya.
Hari semakin terik, sinar matahari penuh membungkus kota, saatnya makan siang pun tiba. Rumah makan pinggir jalan mulai ramai pengunjung. Lelaki itu pun memutuskan untuk berhenti sejenak pada salah satu meja makan dan memesan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Tiba saja seekor anjing menghampirinya, masih dengan tersenyum ia pun membagi ayamnya pada anjing itu. Si penjual yang melihat sepenggal kisah itu pun heran, di tengah zaman serba canggih yang membuat sebagian besar manusia menjadi lupa sosial masih ada orang yang begitu perhatian, sekalipun dengan hewan.
Usai menyantap menu pesanannya, ia pun melanjutkan lagi perjalanannya kembali. Tiba di ujung jalan, seorang ibu-ibu pengemis beserta anak perempuan yang duduk hanya beralaskan kardus di bawah terik yang menyengat. Tak tega dengan mereka, lelaki itu mengeluarkan dompet dan melihat isinya. Tanpa pertimbangan macam-macam, sebagian besar uangnya pun segera diperuntukkan gadis kecil itu. Seorang tua yang melihatnya terharu dan hanya mampu menggelengkan kepala heran.
Tidak berhenti di sini, kebaikan lelaki itu memang tiada duanya. Pada sebuah rumah kecil yang hanya berpenghuni nenek renta, ia menanggalkan pisang pada ganggang pintu tanpa menunggu pintu itu terbuka. Begitu berlanjut pada hari-hari kemudian, kebaikannya tak pernah lupus dimakan lelah. Seperti biasa, lelaki itu berdo’a di ujung malam berharap keberkahan di kemudian hari.
Hingga pada suatu hari langkahnya terhenti di ujung jalan, ia tak menemukan ibu pengemis itu bersama anaknya. Ia hanya duduk sendiri dengan menggenggam gelas untuk menadahkan belas kasih orang yang berlalu lalang. Lelaki itu heran dan sempat shock. Kemudian, dari seberang jalan gadis itu berteriak memanggil ibunya dengan berseragam sekolah lengkap berserta tas dan sepatunya. Ada kebahagiaan yang tersirat dari raut wajahnya yang lugu. Begitu pula yang dirasakan lelaki itu, ia turut bahagia  yang tak ternilai seketika menyaksikan kebaikannya membuat kebahagiaan bagi orang lain.
Ia merasa bahagia pula atas kebahagiaan orang lain, begitulah bahagia sederhana baginya. Tak perlu meraih langit yang tinggi, tak perlu pula berhidup mewah. Hanya dengan cukup dan tanpa kurang, saling menolong hingga saling berbagi juga mampu menciptakan kebahagiaan tersendiri, bahkan nilai bahagia yang tak terduga.
Dan seperti itu juga yang diutarakan kupu-kupu yang kini tengah asyik menghisap nektar dari bunga mawar putih yang telah hidup kembali. Bunga yang tumbuh subur dari rangkaian batang-batang yang dulunya hampir mati mengering. Pula daun-daunnya yang hijau menyeluruh pada tiap ujung tangkai. Berkat kebaikan lelaki itu pulalah yang menjadikan tanaman ini memiliki semangat kembali untuk turut menghidupkan bumi.
Mawar itu mempersilahkan kupu-kupu hinggap di kelopaknya, memersilahkan kupu-kupu mengambil sebagian madunya. Ia saling berbagi dan membantu. Berharap kebaikan yang ia lakukan juga akan menciptakan kebahagiaan. Seperti yang dilakukan lelaki itu pada dirinya.
Jika saja mawar itu mampu berbicara, mungkin ia akan memetik salah satu bunganya dan mempersembahkan sembari mengucap terima kasih pada lelaki baik hati yang murah sumringah itu. Setitik kebaikan bukan hanya akan menciptakan kebahagiaan bagi orang lain, melainkan juga kebahagiaan diri sendiri yang mungkin harganya jauh lebih mahal ketimbang membeli langit. *Choirotul Umayah

Rabu, 12 April 2017

Sukses Dalam Mitos


Dalam kehidupan dunia, manusia pasti memiliki target dan tujuan hidup masing-masing. Dengan berbagai perencanaan dan refrensi, mereka rela melakukan apa saja untuk mencapai apa telah menjadi tujuan mereka. Hingga kata sukses sering kali mereka agungkan ketika telah mendapatkan hasil yang sesuai dengan planning yang telah mereka rencanakan. Dalam berbagai definisi yang ada, kesuksesan bisa dikatakan sebagai keberhasilan yang didapatkan oleh seseorang ketika mereka mampu dan bisa mencapai tujuan. Sukses juga sering dijadikan impian. Untuk mencapai kata sukses tersebut, manusia perlu melakukan berbagai usaha. Seperti melakukan perencanaan yang matang dengan diimbangi dengan berbagai pertimbangan mengenai hambatan dan dukungan yang nantinya akan terjadi dalam pelaksanaan sebuah perencanaan. Menentukan tujuan yang pasti dan identifikasi situasi dan kondisi.
Kesuksesan termasuk pandangan yang bersifat subjektif. Yang mana untuk mengatakan sebuah usaha atau kegiatan bisa dianggap sukses, setiap orang memiliki pandangan dan ukuran masing-masing dalam memaknai sebuah kesuksesan. Secara general seseorang bisa dikatakan sukses apabila ia telah mencapai tujuannya. Misal, seorang pengusaha akan mengatakan dirinya bisa dibilang kaya ketika ia memiliki mobil, perusahaan dan lain-lain. Pendangan seperti ini mungkin saja bisa berbeda dengan orang-orang biasa yang hidup sederhana di perkampungan kelas menengah hingga kelas bawah. Mungkin bisa jadi bagi mereka makna kaya bisa dikatakan ketika mereka bisa makan enak setiap harinya, tanpa perlu memiliki mobil, perusahaan dan lain-lain seperti pandangan orang-orang pengusaha. Begitulah perbedaan pengalaman personal dan kultural setiap orang berpengaruh menentukan ukuran bagi mereka masing-masing dalam memaknai sebuah kesuksesan.
Senada dengan yang telah dipaparkan oleh salah satu ahli semiologi yakni Roland Barthes. Dalam teori mitologinya ia membahas mengenai pemaknaan terhadap sesuatu yang terjadi di masyarakat. Dalam sistem pemaknaan Barthes ia menjelaskan mengenai makna denotasi (makna sebenarnya yang ditangkap oleh panca indra dalam proses sensasi) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman dan kultural personal). Selain itu Barthes juga melihat aspek lain dari sistem penandaan, yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. Mitos menurut Barthes terletak pada tingkat kedua pemaknaan, jadi setelah terjadi pemaknaan secara denotasi dan konotasi, tanda tersebut akan menjadi tanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Jika dihubungkan pada pandangan setiap orang yang berbeda mengenai kesuksesan, dalam semiologi yang ditawarkan Barthes dapat menjadikan pemaknaan konotasi berkembang menjadi denotasi yang kemudian dapat disebut sebagai mitos yang dipercaya dan diakui bagi golongan-golongan masyarakat tertentu sesuai dengan latar belakang dan lingkungan masing-masing. Bagi kelompok pengusaha akan mengakui kesuksesan apabila mereka memiliki kekayaan sesuai dengan pandangan dan ukuran menurut mereka. Berbeda dengan orang-orang yang tergolong masyarakat menengah kebawah, yang belum tentu menjadikan kekayaan sebagai ukuran kesuksesan bagi mereka.
Selain itu, kesuksesan ciptaan media juga berpengaruh terhadap pandangan-pandangan yang muncul mengenai kesuksesan. Kekutan media berkesempatan besar menyumbang pemikiran-pemikiran masyarakat melalui kesuksesan yang ditampilkannya. Apa yang disirakan tak lain dan tak bukan selalu tertuju pada kesuksesan besar dengan mayoritas menggunakan materi sebagai objek yang nantinya diukur sebagai pencapaian kesuksesan. Tak jarang media memberitakan seorang public figure yang bisa dikatakan sukses dengan menonjolkan materi yang ia miliki. Sehingga sedikit banyak membangun pemahaman bagi masyarakat mengenai kekayaan yang mayoritas dianggap sebagai kesuksesan. Padahal, kesuksesan tidak hanya tertuju pada satu ukuran saja. Bukan hanya dengan materi semata seseorang bisa dikatakan sukses, masih banyak objek lain yang bisa dijadikan sebagai ukuran. Hanya saja paradigma yang ditawarkan media ini mendapatkan dukungan sekaligus diyakini dan diakui kebenarannya bagi masyarakat. Pemaknaan yang ditangkap oleh masyarakat mengenai kesuksesan yang dikabarkan media ini kemudian menjadi makna baru yang diyakini dan dianggap benar, dengan menganggap kekayaan menjadi salah satu ukuran kesuksesan seseorang. Begitulah kesuksesan dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk mitos yang tercipta dan berkembangan di masyarakat. 

Tentang Dua Lelaki

Sebuah Cerpen

“But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece”

Kamar ini lenggang, juga wangi. Hanya dengan semalam, kapal pecah itu berubah laiknya kamar seorang tuan putri kerajaan megah pada suatu istana di tengah desa. Serba putih dan hanya ada bunga berserahkan di sana-sini. Aku termangu duduk di depan kaca. Tapi merunduk, gemetar dan penuh resah. Ada ketakutan mencekam, tapi juga ada bahagia yang memeluk erat. Aku beranikan diri menatap wajahku pada kaca. Dan tak kutemui diriku di sana. Yang ada hanya seorang wanita cantik yang parasnya sudah berbalut bedak dan segala macamnya. Bibirnya merah kalem, bulu matanya lentik melengkung, lensanya tak kalah mencolok. Pipinya merah merona, rambutnya terikat berpola, menambah legit parasnya. Aku coba menyapanya, kuberi ia senyuman. Kemudian ia pun mengembalikan senyum padaku. Terlihat giginya putih. Semakin gelis pula dia.
Tiba saja pintu kamar terbuka, ternyata ibu yang berdiri di balik daun pintu itu. Tersenyum. Ia mengenakan kebaya merah muda dengan rambut bergelung, sangat cocok dengan wajahnya yang tenang. Menghampiriku, ada sebuah album keluarga dipegang oleh kedua tangannya. Semakin mendekat dan kini tepat dihadapanku. Meraih tubuhku, dipeluknya perlahan dan dikecupnya keningku. Tiada kata, dan ruangan ini tetap lenggang.
Kemudian ia duduk, membuka album keluarga berwarna biru yang ada di kedua tangannya. Lembar perlembar ia pandangi lamat-lamat. Ada foto pernikahannya dengan suaminya di sana. Masa-masa pengantin baru masih menghiasi halaman selanjutnya. Dibaliknya terus perlahan. Lalu berhenti pada sebuah potret gadis kecil yang menggunakan gaun mewah bak pengantin cilik. Lengkap dengan sanggul dan bungga hias di tangannya. Tersenyum manja dan masih lugu. Sangat lucu.
“Kau masih ingat saat ini ?” tanyanya membuka obrolan.
“Iya bu, aku jelas mengingatnya. Itu aku saat mengikuti karnaval di sekolah dasar dulu” jawabku gamblang begitu saja.
“Gadis kecil ibu sekarang sudah dewasa” kemudian ia menatapku penuh sayang. “Dulu ia mengenakan gaun pengantin untuk menghadiri karnaval di sekolahnya, dan sekarang ia menggunakan gaun pengantin lagi, untuk menjadi mempelai yang sesungguhnya.” Air matanya meronta jatuh, tapi tertahan di kelopak mata.
Serasa ada yang menyambar hati, merangkul erat seluruh dan segala perasaan yang seketika tiada artinya. Perasaannya mungkin lebih mengharukan.
“Ibu tahu kau sudah saatnya jalan sendiri, tapi ibu akan selalu membuka pintu lebar-lebar sebagai tempatmu kembali nduk. Kamu akan jadi tanggung jawab penuh lelaki yang hendak meminangmu nanti, sebentar lagi …”
“Ibu …” aku memotong kalimatnya. Tak kuasa menahan ruah air mata, hujan pun turun di mataku, dan mata ibu. Aku memeluknya erat.
“Eeeh, calon pengantin kok menangis, nanti bedaknya luntur nduk. Tuh lihat ..” ia menunjuk kaca, kemudian melanjutkan kalimatnya “sudah dandan cantik masak nangis. Gadis ibu yang suka nangis saat dulu terjatuh masak harus menangis lagi, ini momen bahagia Era. Hidupmu akan naik satu level, dan kau pasti sudah tahu itu. Semakin tinggi pohon, maka semakin kencang pula angin yang menerpa.”
Kalimat terakhirnya bak pecut yang menyambar dari langit. Seperti akan ada perang hebat yang hendak aku alami. Atau perjalanan panjang dengan berbagai rintangan tak terduga. Aku tahu ini pernikahan, tidak akan hanya ada bahagia. Bukan semata perwujudan cinta. Tak ada apa-apanya dibanding realita. Ancaman dan kekhawatirannya serasa lebih besar dibanding sekedar janji kebahagiaan semata.
Semuanya akan sepenuhnya jadi tanggungjawab pribadi. Mulai dari membuka mata hingga menutupnya kembali. Senja mungkin akan masih terlihat indah di hari-hari pertama, tapi tidak pada tahun selanjutnya. Itu yang mereka katakan.
“Jangan samakan persepsi orang lain dengan definisimu sendiri Era, setiap orang punya nasib dan takdirnya masing-masing. Mereka seperti dan mengatakan serupa karena mungkin ada yang kurang beres dengan apa yang mereka alami.” Kalimatnya berlanjut seolah mendengar gundahan yang tengah bercengkrama sendiri dalam hatiku.
“Kau punya kisah cinta yang unik, kamu sendiri yang menyimpulkannya kan. Dan dengan begitu kau menemukan kembali Afimu. Ibu sangat yakin, pernikahanmu tak semenakutkan kisah orang lain. Kamu dan lelaki itu, bukan orang yang biasa. Pemahaman kalian lebih dari biasa.”
Kembali lenggang, kami saling memandang.
Tiba-tiba ada bi mariyem memecahkan keheningan, ketukannya lembut pada pintu, tapi mampu membuyarkan pandangan kita masing-masing.
“Acaranya sudah mau dimulai bu, non”
####
Gaun putih ini melekat penuh menyelimutiku. Aku melangkah penuh pasti. Ini hari yang pernah aku impikan, mana mungkin akan aku hancurkan begitu saja. Ibu masih setia di sampingku. Semua mata tertuju padaku, seakan terpesona dan turut merasakan kebahagiaan.
Ada dua lelaki hebat telah berdiri di depanku, menatap penuh menanti kedatanganku. Aku tahu pasti siapa mereka. Satunya seorang laki-laki hebat yang tak pernah sekalipun membuat aku menangis, dan tak akan pernah membuatku menangis. Yang selalu berusaha penuh, mengucurkan begitu saja peluhnya tanpa keluh demi segalanya terbeli untukku. Yang tak akan diam saja melihat aku terjatuh, uluran tangannya selalu mendahului tak mau tersekiankan mendekapku, memberdirikan lagi kakiku yang terkadang lelah dan terjatuh di tengah perjalanan.
Yang satunya lagi, seorang lelaki hebat pula yang membuat aku menangis di awal perjumpaan. Membuatku tersungkur pilu karena segala rasa. Menanggung rindu yang tak kunjung bertepi. Dan kemudian membuat aku terpaksa berdiri dengan sendiri, melawan emosi dan seluruh sangka. Membuatku mau tidak mau sadar, merubah segala hal-hal buruk menjadi positif. Lelaki yang membuatku berubah hampir sepenuhnya hanya karena sebuah rasa, karena sebuah nama. Yang membuatku jatuh cinta, dan jatuh cinta lagi, kemudian dan selanjutnya untuk kesekian kali.
Tangan kasar itu meraih jemariku. Aku melihat binar pada pasang matanya. “Ayah” dalam hati kumenggumam. Dilihatnya lamat sekali aku, membaca segala yang kurasakan. Ia menyampaikan kata dalam pandangannya. Ada do’a dan harapan dalam genggamannya. Seolah ia sedang merayu Tuhan agar hidupku selanjutnya akan tetap dan selalu baik-baik saja, meski tanggungjawab atas diriku sudah tak lagi sepenuhnya jadi tanggungannya. Ada lelaki lain yang hendak mengambilalihnya, tapi meski seperti itu, ia tetap raja yang selalu hidup dan tinggal dalam hati.
Dan pangeran itu, yang kini berada tepat di belakangku sudah cukup lama menunggu. Kedua tangan ayah membalikkan badanku. Ia tak berkata apa-apa padaku. Tapi aku seolah telah mendengar percakapannya dengan Tuhan. Dan kini ia berbicara banyak pada mempelai pria.
“Jaga dia, buat dia bahagia” sebuah pesan singkat yang menjelaskan banyak pembicaraan, tersirat banyak permintaan dan tuntutan.
“Saya berjanji akan membahagiakannya, lahir dan batin.” Janji suci itu didengar alam, tak hanya oleh para undangan. Seluruh ruangan jadi membinar, haru dan penuh tenang.
Lelaki itu meraih tanganku dari tangan ayah. Semenjak saat itulah, ia mengambil seluruh tanggungjawabnya sepenuhnya sebagai seorang suami. Memandangku penuh kasih, menggenggamku penuh sayang.
“So as long as I live I love you, will have and hold you. You look so beautiful in white. And from now to my very last breath this day I'll cherish” kalimatnya memeluk jiwa. Hingga mulutku tak mampu menyangga apa-apa. Diam membisu, mengiyakan sepenuhnya dengan perasaan tak mampu terungkap dengan kata semata.
“You look so beautiful in white”

 *Choirotul Umayah

Semestinya Ungkapan

SEBUAH CERPEN

“Denganmu jiwa ini terisi. Aku mencintai engkau . Begitu besar tak tertandingi”

Kerumunan wartawan dari berbagai media, dengan kamera dan catatan ringkas di tangan mereka masing-masing, berbondong-bondong memenuhi ruangan megah di salah satu gedung terkenal di Ibukota. Siap melempar berbagai pertanyaan, dan siap pula mencatat jawaban narasumber. Kilau cahaya dari flash kamera para wartawan mengedip berkali-kali bak lampu disko yang menyorot. Ramai dan penuh. Puluhan fans juga turut memadati ruangan. Mengapa ? ada apa ?
Ternyata. Seorang penulis terkenal dengan berbagai karya mengagumkan sudah duduk manis di atas podium, siap menerima berbagai pertanyaan. Launching buku kelimanya setelah dua tahun berkiprah di dunia kata, yang menjadi ramai di kalangan newstaiment ini mendapat banyak perhatian, selain parasnya yang cantik, kritis serta puitis membuat Eralina menjadi terkenal sebagai salah satu pengarya terbaik bangsa. Buku-bukunya yang penuh kritik sosial dan menggugah, menyumbangkan banyak pemikiran baru bagi kehidupan bangsa yang penuh hiruk pikuk keributan sana-sini. Dan kali ini sedikit berbeda dengan tulisannya yang menggelitik dibanding buku-buku sebelumnya.
Dibuka pertanyaan tentang “Mengapa ?” oleh wartawan media cetak ternama di Ibukota. Era tersenyum, merasa yakin dengan kalimat yang sudah terangkai sempurna di kepalanya. Para wartawan pun siap menarikan jemari lentiknya masing-masing.
“Ada hak yang ingin saya gunakan. Setelah beberapa karya saya publikasikan dan mendapat respon yang luar biasa, saya merasa yakin dengan berbagai pengalaman pribadi yang saya miliki mungkin dapat memberikan motivasi bagi orang lain. Sekaligus saya ingin mempertegas makna mengenai suatu hal dengan berbagai tindakan yang saya utarakan dalam karya terbaru saya ini” nada yang tegas dan tatapan meyakinkan itu seakan menambah kredibilitas Era malam itu.
Sebagian sibuk mencatat, sebagian lagi mangut-mangut seolah begitu paham dengan jawaban Era. “Pemaknaan apa yang anda maksud ?” lanjut pertanyaan dari wartawan yang tepat berada di hadapan Era.
“Mengenai hitam, pahit dan penerimaan. Sebagian besar orang-orang tahu hitam itu gelap, tapi hanya sebagian kecil yang faham bahwa hitam itu elegan. Sayangnya, lebih banyak orang yang sibuk mencerca, memandang sebelah mata, tak tanggap hikmah, saling mencaci, menjadikan waktu mereka basi dan terbuang sia-sia. Ketimbang memaknai dan memahaminya dari sudut yang berbeda. Kita tahu kopi itu pahit, tapi tetap meminumnya kan ?, karena memang ada pahit yang bisa dinikmati.” Seluruhnya hening tak ada yang menyela. Mendengarkan begitu seksama dan nampak terpesona.
“Pasti ada cinta di antara manusia, dan tak semua kisah sama alurnya. Rindu, yang kata orang itu indah, tapi tidak bagi saya. Rindu itu jahat, menyita segala ruang dalam hati dan pikiran saya. Tapi ia baik, baik sekali. Membuat saya senang bermain kata, berteka-teki dengan segala kejadian, kemudian merantainya dalam karya. Cinta itu ide, tidak hanya berhenti jadi perasaan yang kemudian minta dituruti nafsunya. Cinta itu karya, tergantung bagaimana kita mengemasnya. Cinta itu sederhana, tapi tak bisa diremehkan. Cinta itu mewah, tapi tak perlu disanjung terlalu lama. Kita bisa jadi apa saja oleh cinta, tergantung bagaimana kita menjadikan cinta itu sebagai apa.”
“Lantas bagaimana kisah yang anda alami mengenai cinta ?”
“Kisah saya tak begitu indah, tapi pemaknaannya yang lebih sempurna membuat saya merasa beruntung mengenalnya. Dengan begitu membuat saya ingin dan selalu ingin menulisnya. Dari situlah bermula saya mengawali tulisan saya”
“Apa hubungannya antara cinta dengan kritik sosial yang selalu jadi tenar dari karya-karya anda mengenai politik dan berbagai permasalahan negara ? begitu pula dengan para tokoh yang anda angkat namanya ?”
“Semuanya bersebab akibat, kritik saya berdasarkan cinta. Mereka yang ada dalam karya saya juga pasti memiliki cinta. Memiliki alasan sendiri atas segala yang mereka lakukan.” Jawaban yang cukup singkat untuk pertanyaan ini. Semua orang tahu, Era selalu mengemas apik berbagai pendapat. Seperti kisah ibu Yani, pejabat Negara yang jadi narapidana atas perbuatan korupsi, ia tulis begitu lugas. Atau cerita menarik mantan presiden di balik kelucuannya. Tak memandang siapa ia, tapi apa dan bagaimana kebaikan yang dapat dilihat sekaligus dijadikan contoh. Dan kali ini ia sendiri yang jadi bahan tulisannya. Tak lepas dari kritik, sekalipun itu dirinya sendiri, pilihan kata dan kalimat puitis juga tak lepas dari goresannya.
“Siapakah laki-laki yang mengenalkan cinta pada anda ?”
Sedikit menggelitik, membuat Era tersenyum malu sebelum menjawabnya. “Ia saya kenal dari sebuah kata, sebuah nama. Ia pula yang mengajarkan saya tentang bahasa. Dan kita dipertemukan dalam sebuah karya. Awalnya saya jatuh cinta pada tulisannya, selanjutnya laki-laki itu seolah merangkai perasaan saya. Saya sempat jatuh tersungkur tak berdaya, termakan rindu dan terbakar cemburu. Tapi kemudian saya faham, tak sebodoh itu saya dapat dihancurkan. Rasa ingin memiliki hanya sebagian besar dari nafsu, dan cinta tak semenjijikkan itu. Saya tak pernah tahu perasaannya bagaimana, yang saya tahu hanya perasaan saya dan keputusan saya. Ada gelombang mengerah memaksa saya menghentikan semua, ada yang membuat saya harus pergi dari keterpurukan. Cinta adalah alasan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Cerita itu berlalu begitu saja, saya kemas dalam berbagai kesibukan, selanjutnya biar jadi urusan Tuhan. Dan dari sanalah yang membuat saya seperti saat ini.”
Semarak para undangan yang hadir bertepuk tangan, lagi dan lagi kamera ber-flash itu menyoroti Era, mengerdip berkali-kali menyilaukan. Seorang laki-laki berpenampilan layaknya wartawan senior di sudut ruangan itu tersenyum. Turut bertepuk tangan, kemudian menutup buku catatannya. Terlihat nama pada covernya bertuliskan “Elin-Afi”. Dan meninggalkan ruangan dengan perasaan bangga.
Keesokan harinya berita dan beberapa artikel mengenai malam itu muncul di berbagai media, membuat kepingan buku terbarunya laris seketika. Namun ada yang berbeda dan membuatnya sangat mengganjal. Di salah satu kolom majalah PARIS yang memuat artikel mengenai Launching karya terbaru Era, namanya tak tertulis seperti biasa, bukan Eralina, tetapi Elin. Serasa nama panggilan lamanya tersebut kembali, Era sedikit ragu mengenai siapa yang sengaja menulisnya, tapi nama itu adalah nama panggilan khusus dari laki-laki yang sempat menjatuhsungkurkannya. Jantungnya berdegup kencang, ada satu nama yang muncul dikepalanya, tapi ia tak berani menyebutnya. Tertahan dalam otaknya, dan seketika kembali memenuhi hatinya. Era tak lagi berani mengharap pertemuan, itu sudah dilampiaskan pada beberapa tulisannya. Dan itu sudah cukup membuatnya bangga. Merasa tak mau dirugikan, langsung ia hapus begitu saja perasaan yang hidup kembali itu. “Mana mungkin lelaki itu yang menuliskan nama lamaku. Ah … mungkin saja seorang teman lama yang memberitahu awak media itu.” Era berusaha mengalihkan pikiran. Melanjutkan kegiatannya. Kali ini ada jadwal Talkshow dari salah satu media nasional.
Selalu dan pasti, pakaian rapi dengan rambut gelombangnya yang serasi dengan parasnya membuat penampilannya semakin anggun. Begitu ceria dan tenang, acara dilaluinya, dan sontak penggemar tepuk tangan meramaikan ruangan.
Era meninggalkan, turun dan bergegas pulang. Tiba-tiba langkahnya terhenti pada sebuah lorong. Ada dua pria yang sedang bercakap serius. Layaknya seorang atasan dan anak buahnya. Mata Era bertemu pada sosok  yang tak asing baginya. Seseorang yang pernah ia cintai, hingga saat ini. Era kenal betul wajahnya yang masih sama, tak berubah seperti dulu, sorotan mata elangnya yang tajam, suaranya yang berat, dan rambutnya yang bergelombang. Tersentak dan tak tahu harus berbuat apa. Kali ini hatinya benar-benar tersambar, ada guncangan hebat dalam memorinya. Terpaksa membuka kejadian sembilan tahun silam atas sebuah nama. Menatapnya sekilas, tak berani terlalu lama, dan takut ketahuan. Era memaksa kakinya melanjutkan langkah, berusaha mengabaikan apa dan siapa yang dilaluinya. Berjalan begitu saja meninggalkan tanya bergelanjutan di kepala.
Pria itu menyadari kehadiran Era, sengaja melanjutkan perbincangan, lalu memandang pungung wanita itu menjauh meninggalkan. Sama, seketika getaran di hatinya jadi tak beraturan, semakin cepat dan menggemetarkan. Ia merasa jatuh cinta lagi, dengan orang yang sama.
Selang beberapa hari kemudian, keajaiban tak berhenti menyapa Era. Sepulang dari bertemu editornya, Era dikejutkan lagi oleh keramaian di rumahnya. Bukan wartawan yang hendak wawancara, apalagi teman-teman yang hendak main. Sedikit lebih resmi dan ruang tamunya penuh dengan orang. Ada sekeluarga yang berhadapan dengan ayah ibunya, membawa beberapa bingkisan. Era merasa heran, melewati pintu dengan ragu. Mengucap salam dan semua yang ada di ruang tamu itu menoleh ke arahnya.
Sebuah pertanyaan tiba-tiba dilayangkan untuk dirinya. Belum sempat menghela nafas, matanya bertemu pada sosok yang sangat tak asing baginya. Lelaki itu berdiri, menghampirinya. Membawa sebuah kotak perhiasan yang terbuka separuh, kilauan cincin itu semburat memenuhi pandangannya. “Afi ?” hanya ada satu kata, lengkap beserta air mata.
“Maaf, sembilan tahun aku sibuk dengan duniaku. Membiarkanmu sibuk sendiri mengungkapkan cinta. Elin, jadilah pendamping hidupku, kita akan ciptakan lebih banyak lagi karya bersama. Ya ?” *Choirotul Umayah

Selasa, 19 Januari 2016

Ada cinta untuk mengungkapkan sayang

Jika sungai adalah channel dan perahu adalah media, maka begitu juga dengan cinta dan sayang.

Seperti komunikasi
Beberapa unsur dalam sebuah komunikasi ada yang bernama media dan channel
Untuk memudahkan pemahaman, mereka sering menganalogikan hal ini pada sebuah sungai dan perahu.

Sungai adalah channelnya, sedangkan perahu adalah medianya .. Yang mana tanpa perahu, seseorang masih bisa menyeberangi sungai tersebut, bisa dengan berenang atau dengan membangun jembatan. Dengan begitu ia akan tetap sampai di seberang.
Begitu juga dengan komunikasi, sebuah pesan akan terap tersampaikan sekalipun tidak ada media, dalam artian tidak hanya berpatok pada satu media (cara atau metode) saja.

Lantas bagaimana dengan cinta dan sayang ?

Bagiku tak jauh berbeda dengan kedua hal di atas. Cinta di sini adalah sebuah ungkapan (media), sedangkan sayang adalah perasaan (channel).

Seseorang bisa saja mengungkapkan perasaannya dengan kata cinta, karena itu adalah salah satu metode untuk menyampaikan perasaan. Namun sayang juga masih bisa tersampaikan tanpa cinta. Karena cinta hanyalah cara, sedangkan sayang adalah penghubung di antara dua seberang yang terpisah jarak. Tinggal bergantung pada cara pengungkapannya saja, apa dengan menggunakan cinta atau yang lainnya.

Begitulah sekiranya rindu malam ini mengantarkanku pada pemahaman ini.

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com