Senin, 07 September 2015

Komunikasi dan komodifikasi budaya dan media


Kehadiran media sudah bukan lagi hal yang baru dalam kehidupan manusia. Dengan berbagai manfaat yang diberikan oleh media membuat manusia menyambut kehadiran media dengan tangan terbuka. Bahkan manusia itu sendiri terus menciptakan media-media lainnya yang lebih canggih. Media kini telah berada pada kedudukan yang lebih tinggi ketimbang politik, bahkan politik sangat memerlukan media. Sebagai sarana utama dalam memenuhi berbagai kebutuhan manusia, media seringkali dianggap sebagai hal yang paling penting. Contoh sederhana saja dikehidupan nyata yang seringkali terjadi, bahwa seseorang merasa tak hidup apabila handphone (salah satu bentuk media) miliknya tertinggal di rumah saat sedang bepergian. Ia merasa hidup sebatang kara apabila tak membawa handphone miliknya kemanapun ia pergi. Padahal disitulah kesempatannya untuk mengenal orang lain dengan cara berinteraksi langsung tanpa menggunakan media, namun yang terjadi malah sebaliknya. Sebegitu pentingnya kehadiran media bagi manusia, hingga menjadikan media pegangan utama dimanapun manusia berada.
Selain itu kehadiran media juga memberikan banyak perubahan, bukan hanya pada manusia, melainkan juga pada berbagai aspek kehidupan. Mulai dari sosial, politik, keagamaan, pemerintahan, pendidikan, dan lain sebagainya. Dengan fungsi-fungsi yang diberikan oleh media membuat penyaluran informasi penting bisa terakses lebih cepat. Media seringkali disebut sebagai alat penghubung, yang mana dengan media dapat menghubungkan seseorang dengan orang lain yang terpisah jarak berkilo-kilometer jauhnya, bahkan hingga ke luar negri sekalipun. Dengan manfaat yang begitu besar dan beragam menjadikan media sebagai alat untuk mengenal dunia secara luas. Dengan media kita dapat mengetahui berbagai macam hal yang tengah terjadi diberbagai penjuru dunia dalam waktu sekejap saja, memperoleh berbagai pelajaran, dan juga ide-ide kreatif lainnya.
Tak dapat dipungkiri segala sesuatu yang memiliki kelebihan juga pasti memiliki kekurangan, kehadiran media juga kerapkali menghadirkan kecemasan bagi msyarakat, lebih-lebih dari pengaruh yang ditimbulkan oleh media. Dengan penawaran canggih yang memudahkan membuat manusia meninggalkan gaya hidup yang lama menuju pada kehidupan yang dianggap lebih modern, begitulah mereka menyebutnya. Tak terlepas juga bagi komunikasi yang telah mengalami perubahan oleh media, orang-orang dulu melakukan komunikasi dengan bertatap muka (bertemu langsung tanpa ada perantara), namun dengan media membuat manusia bisa melakukan komunikasi tanpa bertemu langsung. Dengan begitu efek yang diberikan media yaitu perubahan komunikasi secara fundamental.
Nama-nama selebritis terkenal kerapkali menghiasi layar kaca televisi yang juga merupakan salah satu bagian dari media, menggeser keberadaan budaya lokal. Hingga melahirkan budaya baru yang melibatkan media, tak sedikit film-film yang ditayangkan mengikutsertakan media dalam sebuah peran dalam ceritanya. Seperti film “Her” yang mengisahkan seorang laki-laki yang memiliki hubungan intim dengan teknologi OS (Operating System), yang mana perempuan yang dicintainya hanyalah sistem operating yang dibuat oleh manusia, bukanlah manusia asli pada realitanya. Dalam cerita tersebut kisah seperti itu tidak hanya terjadi pada satu orang saja, namun hampir semua warga juga merasakan hal sama. Budaya yang baru ini menimbulkan kecemasan tersendiri bagi masyarakat yang mengakibatkan kehidupan manusia pada akhirnya sudah tak membutuhkan komunikasi langsung lagi sesama manusia.
Dari berbagai pengaruh yang terjadi akibat adanya media membuat para pengkaji media dan budaya kritis telah menggunakan beberapa pendekatan untuk memahai arti penting kehadiran media dalam kehidupan sehari-hari.

Media sebagai pembentuk
Sesuai dengan salah satu fungsi media, yaitu persuasive yang mana menjadikan media sebagai alat untuk memengaruhi pemikiran masyarakat terhadap sesuatu yang diberitakannya. Dalam pendekatan ini lebih memfokuskan cara bagaimana memengaruhi masyarakat untuk mengikuti apa yang diberitakan oleh media. Dengan kata lain media terus berusaha menyetting gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan yang diinginkan oleh media.

Media sebagai cermin
Selain untuk memersuasif, media juga seringkali memberitakan sesuai dengan apa yang terjadi dimasyarakat. Kali ini media yang mengikuti perubahan di masyarakat, yang mana segala sesuatu yang terjadi di masyarakat akan ditampilkan oleh media. Dapat dikatakan peran media disini yaitu untuk merefleksikan dunia secara netral.

Media sebagai pengemas atau representasi
Nah disinilah media mulai membatasi atau menyeleksi berita apa saja yang layak diberitakan. Tak semua yang terjadi dimasyarakat akan dijadikan berita yang layak tayang, sejatinya yang diberitakan media bukanlah merefleksikan dunia secara netral, akan tetapi harus melawati tahap penyeleksian data. Namun terkadang dari sini juga kesalahpahaman itu terjadi. Apabila berita yang ditayangkan tak seutuhnya diberitakan karena telah mengalami filterasi membuat berita tersebut sudah bukan lagi sesuai dengan realita, terkadang lebih parahnya dapat menimbulkan kesalahan, membuat yang salah menjadi benar begitu juga sebaliknya.

Media sebagai guru
Kembali lagi pada fungsi media secara umum, salah satunya yaitu fungsi edukasi, yang mana dengan adanya media ini diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan yang lebih efektif dan lebih luas. Media dipandang sebagai sarana utama bagi kebanyakan dari kita untuk mengalami dan belajar tentang berbagai aspek dunia di sekitar kita. Berdasarkan pandangan ini, selain kita mendapatkan pelajaran dari bangku sekolah atau perkuliahan, kita juga dapat mengambil berbagai pelajaran dari tayangan yang disediakan oleh media. Namun lagi-lagi kecemasan kembali hadir akibat adanya media ini, meski manfaat yang diberikan sudah terbilang banyak. Dengan menjadikan media sebagai salah satu sarana pembelajaran bisa jadi membuat jutaan anak-anak menganggap media sebagai “guru kedua” atau “orangtua kedua”, yang mana membuat mereka lebih mengikuti media ketimbang nasehat orangtua atau guru yang tak sesuai dengan apa yang mereka lihat dari media dengan aturan benar yang sesungguhnya.

Media sebagai ritual
Dalam kehidupan sehari-hari kehadiran media bukanlah hanya pada jam-jam tertentu, namun pada seluruh waktu yang ada. Selama waktu masih berputar disitulah juga hadirnya media. Seperti halnya ritual-ritual keagamaan. Pendekatan ini memandang media dalam memberitakan atau menayangkan berita telah menjadi semacam ritualisme. Contoh kecilnya pada media televisi, yang mana tayangan yang tawarkan ditampilkan dalam berbagai macam program selama 24 jam. Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat khalayak untuk tetap terjaga dan menanti-nanti tayangan pada layar kaca mereka masing-masing. Tak jauh berbeda seperti saat mereka menanti jadwal ritual keagamaan yang mereka jalani secara rutin pada waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh agamanya. Ritualisme media dianggap telah menjadi ritualisme agama baru yang menjangkiti masyarakat, yang sebagian besar waktu luangnya dihabiskan untuk mengkonsumsi media dan berbagai produk budaya popular. Maka sudah tak heran lagi jika mendengar banyak orangtua yang mengeluh karena anak-anak mereka lebih sering menghabiskan waktu untuk menonton televisi ketimbang mengaji.

Media sebagai “Tuhan”
Pendangan ini terbilang lebih ekstrim daripada yang sebelumnya, selain melihat media sebagai ritual baru, media juga dianggap sebagai Tuhan atau agama baru bagi masyarakat yang terlalu mempercayakan diri pada perkembangan media. Lebih dari seorang guru yang hanya sebatas sarana untuk pembelajaran, media diyakini sebagai anutan atau pedoman hidup msyarakat. Yang mana menjadikan apa-apa yang diberitakan melalui media sebagai aturan hidup yang perlu ditiru atau diterapkan dalam kehidupan nyata. Mereka menganggap media sebagai jelmaan dari “Tuhan kedua” atau “Tuhan pertama” yang memerintahkan jalan kebaikan dan menawarkan pemecahan untuk melawan keburukan berdasarkan versinya sendiri.
Dengan begitu khalayak dianggap sebagai penganut atau pengikut setia dari rittualisme tayangan media. Tuhan-tuhan yang dimaksudkan media ini tak lain dan tak bukan adalah selebriti-selebriti bentukan media, yang mana segala pemberitaan tentang mereka membuat khalayak ingin meniru gaya hidup mereka yang diyakini dapat meraih harapan kebahagiaan yang telah dijanjikan. Selain itu media juga mampu menjual harapan dan impian.
Media sering kali disandingkan dengan budaya konsumtif, yang mana budaya ini terlahir oleh adanya media. Dengan melihat tayangan yang telah dikemas sedemikian rupa membuat khalayak tertarik untuk meniru dengan tujuan ingin seperti selebriti-selebriti ciptaan media, yang kemudia menumbuhkan budaya konsumtif yang hingga kini melekat pada kehidupan sehari-hari. Media juga tak lepas dari kegiatan memanipulasi berita dengan cara mendistorsi fakta bias dan stereotip dalam pemberitaannya.
Perkembangan media yang semakin canggih membuat media makin menjadi industri atau institusi bisnis yang besar meski tanpa meninggalkan bentuknya sebagai institusi masyarakat. Komodifikasi adalah titik masuk awal untuk menteorisasikan ekonomi politik komunikasi. Vincent Mosco (2009) mendefinisikan komodifikasi sebagai proses mengubah barang dan jasa termasuk komunikasi yang dinilai karena kegunaannya menjadi komoditas yang dinilai karena apa yang akan mereka berikan di pasar.

Komodifikasi adalah proses transformasi barang dan jasa yang semula dinilai karena nilai gunanya (misalnya, nilai guna minuman untuk menghilangkan dahaga) menjadi komoditas yang bernilai karena ia bisa mendatangkan keuntungan dipasar setelah dikemas menjadi minuman dalam botol. Dari pengertian tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi membawa masyarakat pada kehidupan yang memprioritaskan keuntungan, yang mana menjadikan segala sesuatu yang bernilai guna menjadi produk yang bersifat komersial. Dengan begitu membuat para produsen berlomba-lomba mengemas produk mereka dengan kemasan semenarik mungkin atau dengan menggunakan iklan yang bagus yang disertai dengan model-model ideal ciptaan media agar membuat masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi produk ciptaannya dengan harapan dapat menyamakan diri sesuai dengan model yang ditampilkan.

Air Mata yang menangis

Ku sebut ini minggu kelam
Kenapa ?
Karena disaat inilah aku menghadapi kenyataan pahit dan memaksaku untuk memilih keputusan yang sama sekali tak terpikirkan sebelumnya

Kisah-kisah indah yang menari riang dalam benak, harus rela ku hapuskan secara paksa
Bukan pula ini suatu keinginan
Ttapi lebih tepatnya ini takdir

Ku temukan persahabatan yang kerap pada tahun sebelumnya
Namun tak seperti ekspektasiku, pemahaman yang aku pelihara agaknya sedikit berbeda dengan realita
Yang ku beri perhatian ternyata tak juga membalas pengertian
Kecewa hingga tangis tak dapat lagi terbujuk diam
Kepercayaan ini seperti kehilangan rasa
Meski hanya untuk sekedar bercanda

Ku rasa aku mengerti sebabnya … mungkin ini bertambah satu level lebih tinggi
Sayangnya ada pihak ketiga yang datang hendak menghibur, namun lagi dia yang trdahulu salah mengartikan
Hingga sikap dan tindakannya membuat hati kembali susah …

Singkat rasa … aku dilema harus bersikap bagaimana
Berusaha tegar tapi masih saja hati merana

Ah … inilah air
Iya … hanyalah air
Air mata yang tersimpan dalam kata
Atau hanyalah kata di balik air mata


04095102

Kau masih jauh di sana

Ternyata lebih mudah bagiMu membalikkan realita dari sekedar yang kuyakini
Sisi lain yang tersembunyi menampakkan rahasia pada dirinya yang berusaha aku percaya
Sebuah kasih tak sampai masih saja dipertahankan
Membiarkan segala kata tak berkepentingan itu lalu lalang
Membuat lidah berkeyakinan iya dan tidak berubah sedemikian cepat
Hanya tanpa bukti oleh pernyataan burung

Semesta selalu kupercaya mendengarkan rintih hati
Segenap rasa … mengembalikanku pada ingatan akan ombak lepas yang sempat menelan rasa itu
Tapi apa daya … bersama pasir dan kenangan yang terbawa pulang, rasa itu pun turut serta kembali memenuhi ruang hampa hati pada kasih jiwa yang sama

Ada yang terasa ada, ataupun tak ada
Tetap saja … kau masih jauh di sana


29085102

Minggu, 06 September 2015

Kalbu yang Gersang


Sepasang mata indah itu selalu memandang tajam diri yang tak berkutik ini.
Dia hebat … selalu bisa menyembunyikan rasa hingga tak terbaca angin
Bukan aku … yang sibuk mencari alasan dan berlari dari kenyataan hati yang tak berkuasa merengkuh kalbu

Tuhan … lagi-lagi kau hadirkan ia dalam mimpi indahku dengan roman kisah yang manis
Namun … apakah juga ia bermimpikan yang sama ?
Atau hanya sekedar lewat saja dan berlalu tanpa rasa
Tuhan … Engkau yang menghadirkan semua ini
Akankah juga kau hadirkan pada hatinya ?
Atau Engkau mengujiku untuk bertahan dalam menunggu
Atau juga untuk hanya sekadar penguat hati semata

Hai kalbu yang gersang …
Bolehkah aku berlalu menghampirimu
Mungkin setetes saja … bahkan untuk seluruhnya pun aku tak akan merugi
Asal pada akhirnya akan ku temukan dikau kembali tersenyum dengan kasih yang kun anti …


26085102

Rabu, 05 Agustus 2015

NEXT RELATIONSHIP


Surabaya - @UlulAlbab 04082015 -- 19.00 
Goa China - Malang

Pertama bertemu tak ada sedikitpun rasa
Bahkan untuk sekedar tahu saja aku tak ingin
Langit tak henti mempertemukan kita
Disetiap pagi
Awal dari kehidupan sehari-hari
Perjumpaan itu pun tak lebih dari ketidaksengajaan
Berlanjut pada perkenalan yang tak ku hendaki
Hanya saja masa alam terlalu sedikit memaksa
Begitu juga dengan tugas yang menjadikan kita saling bercakap ria
Dengan kepentingan yang bukan pribadi
Di situlah nama kami saling diketahui

Masih …
Hanya masih sekedar nama
Sejak itulah kami saringkali dipertemukan
Namun …
Keseringan itu membuatku terjebak pada suatu keadaan yang menyiksa …
Ah … bukan
Bersamanya aku sungguh merasakan kenyamanan
Yang membuatku ingin selalu bersamanya …

Bukanlah waktu yang singkat untuk membuatku sadar dari jebakan ini
Hingga pada akhirnya … aku tak kuasa
Aku mengadukan pada sang laut
Dengan karang-karang yang keras itu kupaksa mendengar jeritan hatiku
Menangis di tengah gelapnya malam
Berteman bulan, bintang dan awan yang terus berjalan
Juga desiran ombak bak musik latar seperti ricuhnya kalbu
Seolah mereka mendengar keluh kesah
Redup … tenang … gelisah …
Dan ombaklah yang menelan rasa itu
Di tengah derasnya menyapu pasir

Lepas …
Bebas …
Bahkan sayang itu semakin indah
Bila kutempatkan dalam rangkaian persahabatan …

Begitulah kurasa … 

@cenyiez
Driver

Selasa, 07 Juli 2015

RAMADHAN ALA PMII

Safari Ramadhan PMII Rayon Dakwah dan Komunikasi 

Surabaya - Masih dalam nuansa ramadhan, PMII dakwah dan komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya tak mau ketinggalan moment untuk mengabadikannya dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dengan mengadakan Safari Ramadhan yang menjadi salah satu agenda pengurus Rayon Dakwah, para aktivis PMII Dakwah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang dikemas secara religi dalam lingkup mahasiswa. Bertempat di gedung MWC NU Tenggilis Mejoyo Surabaya, sahabat-sahabati PMII melaksanakan kegiatan inti dari safari ramadhan ini, yaitu pesantren ramadhan yang berlangsung selama empat hari, dimulai dari hari kamis hingga minggu kemaren (05/07).
Sebelumnya sahabat-sahabati PMII dakwah melakukan bagi-bagi ta’jil di daerah Margorejo Surabaya yang dilaksanakan pada hari kamis minggu lalu (25/06). Kemudian melanjutkan agenda pesantren ramadhan dengan tema “Revitalisasi Nilai-Nilai Religius Di Bulan Ramadhan”.
Dalam agenda pesantren ramadhan ini tidak hanya kader PMII dakwah saja yang berpartisipasi, para undangan dari lintas fakultas dan senior-senior juga turut hadir meramaikan acara. Buka bersama juga dilakukan dengan tujuan menumbuhkan kesolidaritasan para sahabat-sahabati PMII. Forum lesehan antar kader dan para senior PMII juga tak lupa dilakukan demi menjaga keakraban dan juga sebagai ajang berbagi pengalaman dan wacana.
Kegiatan Bakti Sosial di Panti Asuhan Wachid Hasyim Surabaya
Tidak hanya itu, bakti sosial juga menjadi salah satu dari rangkaian acara safari ramadhan ini yang sekaligus menjadi penutup agenda. Sahabat-sahabati PMII memberikan beberapa bahan pokok sembako sebagai bentuk kepedulian soisal kepada panti asuhan Wachid Hasyim yang bertempat di daerah Rungkut Menanggal Surabaya.
Dari berbagai kegiatan yang telah terlaksana dimaksudkan agar kader PMII tidak hanya selalu berkutat pada lingkup keilmuan dan sosial saja, melainkan juga mewujudkan wacana dengan kemasan yang religius. Kegiatan Safari Ramadhan ini merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan oleh PMII Dakwah, yang mana proses kegiatannya serupa dengan kegiatan formal PMII seperti MAPABA dan PKD. Hanya saja kegiatan Safari Ramadhan ini lebih memprioritaskan nilai-nilai keislaman dengan memanfaatkan moment ramadhan.
“Diharapkan dari kegiatan Safari Ramadhan ini kader PMII Dakwah minimal dapat mengetahui dasar-dasar ajaran islam, seperti rukun wudlu, rukun sholat, zakat dan lain-lain, yang sebetulnya sudah mereka ketahui hanya saja sahabat-sabahati mungkin lupa karena terbiasa belajar dengan pengetahuan ala barat” ungkap Hoiron Kasir selaku Ketua Pengurus Rayon Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya. (Choirotul Umayah

Selasa, 26 Mei 2015

Degradasi Nasionalis Mahasiswa "Refleksi Tragedi Trisakti"

Berawal dari kegerahan masyarakat akan ketidakadilan yang semakin merajalela di Indonesia membangkitkan semangat reformasi warga terutama warga kampus, mulai dari mahasiswa, dosen, karyawan hingga rektor. Tragedi 1998 yang bermotif kepentingan populis untuk menuntut penurunan Soeharto dari kursi kekuasaan yang sudah 32 tahun memanjakannya ini menggerakkan banyak massa untuk serentak turut dalam aksi turun jalan pada 12 Mei 1998 silam. Dipengaruhi oleh krisis finansial yang dialami Asia sepanjang tahun 1997-1999 memberi dampak yang luar biasa pada perekonomian Indonesia. Bukan hanya itu, krisis multidimensi juga turut andil menjajah Indonesia, diantaranya yaitu krisis politik, krisis hukum hingga krisis kepercayaan.
Jatuhnya perekonomian Indonesia sejak 1997 membuat pemilihan pemerintahan Indonesia saat itu sangat menentukan bagi pertumbuhan ekonomi bangsa supaya dapat keluar dari krisis ekonomi tersebut. Pada bulan Maret 1998 MPR menetapkan Soeharto untuk menjadi Presiden kembali, walaupun keputusan tersebut sangat disayangkan oleh mahasiswa dan sebagian masyarakat. Hal ini menyebabkan mahasiswa terpanggil untuk menyelamatkan bangsa ini dari krisis dengan menolak dipilihnya kembali Soeharto sebagai Presiden. Dengan caramelakukan aksi mereka menyurakannya, mulai di kampus hingga turun jalan.
Semangat nasionalis yang dimiliki oleh beberapa mahasiswa yang berusaha mempropanganda massa yang lainnya untuk melakukan gerakan aksi bersama. Dengan bantuan media yang memberitakan mengenai berbagai aksi di berbagai daerah, seperti Yogyakarta, Bogor hingga Jakarta semakin meyakinkan massa untuk melakukan hal serupa secara serentak. Efek yang ditimbulkan media terbilang sangat mempengaruhi, bukan hanya sekedar kognitif (informatif) saja, setelah berhasil menyampaikan pesan secara afektif, media membuat massa terstimuli untuk turut melakukan tindakan. Alhasil sekitar 6000 massa berhasil dibariskan untuk melakukan aksi dengan besar-besaran dari kampus Trisakti menuju gedung MPR.
Bermula dari aksi damai yang dilakukan massa yang membuat aksi mimbar bebas dan acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama. Berlanjut dengan perjalanan menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman, belum sempat menginjakkan kaki di gedung MPR para demonstran dihadang oleh sejumlah aparat yang kemudian diantara mereka melakukan perundingan.
Perwakilan dari pihak aparat dan pihak mahasiswa melakukan negosiasi yang mengahasilkan keputusan untuk mundur bagi mahasiswa. Namun sungguh disayangkan, hasil penegosasian yang awalnya diharapkan dapat saling menguntungkan malah menimbulkan masalah. Bukan dari isi perjanjiannya melainkan pihak aparat yang tak mengindahkan hasil negosiasi. Belum sempat seluruh mahasiswa kembali memasuki gerbang kampus Trisakti, terdengar suara ledakan oleh salah satu aparat yang menimbulkan kekacauan tak terkendali, hingga menewaskan empat mahasiswa Trisakti dalam kericuhan tersebut.
Berkaca dari tragedi memilukan tersebut membuat nama mahasiswa sempat diindahkan oleh masyarakat sebagai peran perubahan, yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, membela rakyat, hingga menegakkan keadilan. Dengan motif yang jelas serta latar belakang yang mendukung. Nama mahasiswa sampai dianggap sebagai bintang lapangan pada peristiwa yang terjadi di 98’.
Namun bila dibandingkan dengan zaman post modern kini, sudah jarang terdengar lagi yang namanya pergerakan mahasiswa, semangat memperjuangkan kepentingan masyarakat seakan-akan tak lagi hidup dihati para mahasiswa. Entah sistem yang membatasi atau memang keapatisan mahasiswa itu sendiri yang menjadikannya tak tahu atau tak mau tahu mengenai kepentingan masyarakat? Adapun beberapa aksi yang masih dilakukan oleh sejumlah mahasiswa, namun hal itu perlu dipertanyakan motifnya. Apakah demi kepentingan masyarakat atau hanya berorientasi pada kepentingan pribadi seperti pencitraan bahkan urusan perut?
Sebelum melakukan aksi, sebagai mahasiswa yang memegang peran penting harusnya mengenali terlebih dahulu masalah apa yang akan dihadapi. Melakukan analisis dan mengkaji isu secara detail hingga ke akar permasalahnnya. Melakukan riset dan lain sebagainya. Guna mendukung dan memperkuat bukti bahwa apa yang akan dilakukan memang perlu untuk diperjuangkan. Bukan hanya sekedar turut andil dalam barisan tanpa mengetahui tuntutan yang diajukan.
Begitu juga dengan pergerakannya, bukan hanya sekedar aksi turun jalan dan merusak fasilitas negara. Dalam Agama Islam telah mengajarkan tata caramenyeruhsecara baik dan benar. Perlu diketahui konsep “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” yang mana hal tersebut menyeruh pada perbuatan yang baik dan melarang perbuatan yang buruk. Dalam beradvokasi kita tidak hanya bertujuan untuk menuntut keadilan, tetapi kita sebagai advokat juga dituntut untuk berlaku adil. Perjanjian yang nantinya akan disepakati tidak hanya menguntungkan pada satu pihak, melainkan juga kepada semua pihak yang terlibat.
Dalam melakukan advokasi juga diperlukan teknik propaganda. Yang mana peranan propaganda sangatlah menentukan hasil negosiasi yang diharapkan dapat memberikan keuntungan bersama. Teknik yang sepantasnya digunakan dalam keadaan zaman sekarang yang lebih tepat adalah menggunakan model Bottom-Up, yang mana teknik ini melakukan pendekatan dari bawah ke atas. Bukan langsung menyerang bagian teratas dengan berbagai sorakan yang tak dihiraukan, dan berakhir dengan kericuhan tak berhasil.
Nilai-nilai advokasi dalam Islam memang sudah ada sejak zaman Rasulullah, yang mana beliau seringkali melakukan perjanjian dengan kaum lain demi kepentingan bersama. Namun apabila hasil negosiasi sudah tak lagi diindahkan dan terasa dirugikan oleh pihak lain, bukan berarti kita hanya diam dan menerima keadaan. Lagi-lagi keadilan harus ditegakkan. Kita harus kembali memperjuangkan dan menuntut keadilan tersebut. sebagai jalan terakhir barulah aksi turu jalan menjadi pilihan untuk menyuarakan tuntutan masyarakat. Begitulah seharusnya yang perlu diketahui sebelum melakukan aksi. Mengetahui akar permasalahan, mengkaji isu dan melakukan advokasi, bukan hanya sekedar turun jalan yang massasendiri tak mengerti latar belakangnya. 
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com