Selasa, 19 Januari 2016
Pesan dari Langit
Keresahan, kekhawatiran, kecemasan, kerisauan, ketakutan, harapan, bahkan juga kecemburuan telah memberikan banyak pemahaman tentang hidup
Senja tiap kali hendak malam mengajarkanku tentang perpisahan indah yang beraura jingga manis itu, begitu pula fajar yang selalu memberi semangat di awal kali aku kembali menghirup udara, menyampaikan pesan dari langit, bahwa aku tak perlu lagi takut mengenai sangka dan duga yang sempat mematikan keyakinanku ..
Dan kini, berkat mereka, juga pegangan Tuhan yang tak pernah lepas mengawasi, aku bisa kembali percaya mengenai masa depan yang perlahan akan aku ciptakan ..
Hujan pagiku
Mengenai rasa itu mungkin sudah larut pada pasir depan rumah bersama air hujan pagi ini .. Semoga tiada lagi sedih dan perih di setelah derasnya hujan menyapu segala keresahan .. Dan tatapan pelangi kini mengajarkanku tentang senyuman di setiap kali hati kembali pada keadaan pilu itu, mengingatkan perihal janji kebahagiaan yang sering mereka ceritakan.
Senin, 21 Desember 2015
Semangkuk mie instan untuk kami berlima
Tak akan menyesali apa yang sudah menjadi pilihanku
dimalam-malam yang berlalu.
Bahkan akan semakin aku teguhkan kembali niat itu.
Kisah pembuka hari ini memang yang paling tak berkesan
Berlangsung dengan suasana yang tak menghibur
Berlanjut dengan keadaan yang memaksa
Bersama nalar dan memory yang diharuskan berproses saat
itu juga
Bermain diksi antara relasi dan korelasi
Sebab akibat
Tujuan utama
Dasar pemikiran
Teori
Hingga instrument yang akhirnya ditemukan dalam
pemaksaan juga
Meski sebelumnya pernah terbahas namun tak tersentuh
lebih dalam
Sebenarnya mereka tak berarti
Tapi itu semua berkorelasi
Itu juga yang menjadi sebabnya ataupun akibatnya
Yang mewarnai kelamnya waktu itu
Aku hampir saja malu
Malam selalu yang menjadi saksi bisu segala suasana
hatiku
Dari segala kegundahaan, kekhawatiran
Harapan, kekecewaan, kebinggungan
Sampai pada suatu proses yang mengenalkanku pada arti
kebersamaan
Mungkin ikatan akan menjadi penting
Pada saat-saat tertentu saja
Bagiku yang lebih berharga dari itu adalah kehadiran dan
kebersamaan
Semua resah yang berlalu selama ini mengantarkan
perasaanku pada tempat yang memang seharusnya
Meski pada hakikatnya rasa itu belum hilang
Belum lupa dan juga belum mati
Perasaan itu masih ada, masih hidup dan masih teringat
jelas pada memory
Mungkin karena ukiran yang terlalu indah memahat hati
Setelah dibuatnya mengkal dengan menunggu berjam-jam
tanpa tanda-tanda yang jelas
Juga kebersamaan malam ini tak berlangsung sebagaimana
biasanya
Tapi aku suka endingnya
Sungguh aku mengesankan bagian akhir cerita hari ini
Setelah penat menguasai seluruh isi kepala dan juga rasa
Kami bersama kembali pada tempat yang akhir-akhir ini
menjadi singgahanku untuk bermalam
Lokasi yang tak begitu jauh
Lagi-lagi malam ini berbeda
Bukan dengan patner biasanya
Jiwa yang berlabuh kasihku padanya kini juga berada di
sisi
Mungkin ini hadiah atas nama hiburan dari kemengkalan
yang kurasakan sedari tadi
Bukan lagi tersanjung pada pesona senyum
Atau canda yang terkadang terucap manis tanpa motif
Melainkan rasa yang semakin terasa sayang
Kasih yang mengajak hati untuk berdamai pada realita
Hanya dalam sebidang ruang sederhana yang kumuh dengan
penuh pemikiran rumit hasil tuntutan bendera
Lepas dari masalah teori dan konsep
Urusan lain memanggil untuk mendapatkan perhatian serupa
Setelah berlalu dengan sibuknya akal yang terus mencari
jalan keluar
Di tenggah sunyinya malam, kami pun merasa lapar
Singkat laku tanpa banyak kata
Aku menyiapkan hidangan sederhana untuk kami berlima
Serasa jadi koki spesial untuk seseorang yang spesial
Meski nyatanya bukan hanya kami berdua
Melainkan kami berlima
Tapi tetap yang menarik perhatianku hanyalah pada satu
jiwa
Yang lagi-lagi kulabuhkan pandangan dan kasihku padanya
Bukan lagi canggung atau pun resah
Sepertinya memory goa china menegaskanku untuk kembali
pada niatku mengarungi perjalanan panjang tengah malam itu
Sedia berkawan dengan berbagai rintangan dan tantangan
kala itu
Hanya demi harapan hilangnya rasa
Sekali lagi … aku merasa lebih nyaman di dekatmu dengan
rasa yang kualihjalurkan pada sebuah ikatan persahabatan
Ini bukan lagi mengenai jatuh cinta
Ini bahkan lebih dari sekedar jatuh hati
Tak apalah jika bukan aku sang pemilikmu
Asalkan kini aku lebih lagi merasa nyaman bisa bersamamu
Terasa tak ada batasan lagi dalam canda tawa
Tak seperti dulu yang selalu bermain kemunafikkan
Yang bertingkah tak sesuai dengan kata hati
Biarlah ini berjalan seperti ini saja
Baiklah … aku akan simpan sendiri rasa yang masih hidup
ini
Hanya saja aku tak akan terlalu berharap untuk kita
berdua
Yaa … hiburan hati ini akan ku pertahankan untuk sesuatu
yang seharusnya lebih penting untuk aku pikirkan
Tenanglah saja … semesta selalu berkata padaku
Dunia tak akan berubah tanpa kehendakNya
Begitu juga hati para hambaNya
Jika memang iya pasti akan ada cara lain Tuhan
mengintegrasikan kita
Bersatu padu pada sebuah harmonisasi
Namun bila tidak, tetap masih ada integrasi lain …
dengan jiwa lain ataupun sama
Aku tak mengapa … karena ini sudahlah pilihan
Rabu, 10 september 2015, 02.00 WIB
Sepenggal Keluahan Malam
![]() |
| @Cenyiez Photograph |
Ruang penjara yang semakin sempit ini apa mungkin masih bisa menampung berbagai pertanyaan ?
Ketika emosi yang meledak karena kelelahan, beserta kebencian yang muncul karena cinta ..
menghentikan paksa kehendak jiwa yang penuh harap ..
pertemuan dan perpisahan yang berteman erat tak bisa dielak ..
hanya rajutan tinta yang bisa ku adukan ..
sedangkan irama klasik itu memenuhi telinga ..
bersanding lelap ..
berpeluk resah ..
bersimbah ketakutan ..
namun tak berhak menyerah ..
mengarahkan pada kebingungan ..
menyerah pada ketidaksadaran dengan masih tetap berpasrah pada kisah apapun yang hendak Dia anugerahkan ..
Rabu, 28 Oktober 2015
Dengarkan celotehan teman bodohmu ini kawan
Untuk
kalian sahabat sepermainan
Ika dan
Nicha
![]() |
| Nyik Nyek Nyok |
Assalamu’alaikum
wr wb
Hai ..
apa kabar kalian teman seperjuangan ?
Sebelumnya
aku minta maaf, maaf banget beberapa minggu terakhir sikapku tak seperti dahulu
saat kita masih sering bersama, aku sadar akan apa yang aku perbuat. Aku sadar
juga kalau sikapku itu merugikan kalian, dalam artian membuat kalian jengkel
ataupun mengkal. Entah itu menimbulkan banyak pertanyaan atau pun keinginan tak
lagi berteman denganku.
Jika aku
boleh klarifikasi, akan aku jelaskan alasannya kenapa. Akhir-akhir ini aku
merasa ditanggungkan banyak masalah. Mungkin sebenarnya bukan masalah, hanya
saja aku merasa lebih sensitif dengan apa yang terjadi di sekitarku.
Kelabilanku seperti sedang berada pada puncaknya. Bukannya aku tak ingin
berbagi cerita dengan kalian, hanya saja kali ini aku ingin belajar independen
menghadapi dan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku merasa usiaku semakin
bertambah, tapi tak juga aku temukan kedewasaanku juga bertambah. Itu yang
membuatku merasa rugi dan tak ingin tetap bertahan pada status quo.
Prasangka-prasangka buruk tak hanya sekali meracuni sikapku, mungkin itu juga
pendukung kelabilanku. Sedikit banyak aku mulai tahu letak salah dan
kekhilafanku, setelah berperang hebat antara batin dan realita.
Berbicara
Badmood, sebenarnya aku hanya meminjam istilah itu hanya untuk menutupi apa
yang sebenarnya aku rasakan. Maaf yaaa … seringkali aku bilang Badmood kepada
kalian dan meminta kalian untuk tak menghiraukanku. Berharap kalian memahami
konsepan palsu yang selama ini aku lontarkan. Bukan badmood yang aku alami,
saat itu aku sedang berada pada kekacauan dan ingin melakukan komunikasi
intrapersonal, guna mengembalikan sikapku agar tak terlihat bodoh di depan
kalian, juga orang lain. Aku merasa lebih tenang dengan kesendirianku, di saat
banyak hal yang sebenarnya tak sesuai dengan ekspektasiku. Mungkin itulah
kesempatanku untuk berintropeksi diri. Tapi entah makna lain apa yang ada di
benak kalian, aku tak ingin peduli saat itu. Namun aku mulai merasa bodoh bila
terus mengagungkan egoku.
Setiap
orang memiliki saat di mana ia ingin sendiri. Mungkin ini saatnya aku memakai
kesempatan itu. Aku sadar bahwa aku belum menjadi apa yang aku inginkan, dan
betapa munaknya aku masih tetap bertahan pada keadaan yang sama sekali tidak
ada dalam imajinasi masa laluku. Aku menginginkan banyak perubahan pada diriku.
Semakin berkurang hariku membuat target itu semakin dekat, tapi dengan sangat
menyesalnya aku belum juga melangkah satu injakan pun.
Aku
kembali sadar pada tujuan awalku memasuki dunia pendidikan, jauh hari sebelum
aku mengenal kalian. Namun seiring berjalannya waktu dengan berjuta tipuan
zaman, aku terlena dan terjebak dalam kemeriahan rea-reo remaja. Memang itu hal
yang wajar dan perlu untuk di lakukan dengan hanya sekedar hiburan dan pelepas
letih. Hanya saja kini aku ingin menempatkan kegiatanku pada situasi dan
kondisi yang sesuai dan yang telah aku rencanakan. Mulai sekarang aku ingin
menjadi apa aku seharusnya, meski masih bertahan dalam proses, memrofesionalkan
diri yang tak mudah itu butuh pembiasaan.
Biarlah
yang telah tercatat buruk menjadi bahan evaluasi, semaksimal mungkin aku
upayakan agar tak terjadi lagi. Banyak kata tak sedap itu tertuju padaku, dan
itu juga yang menjadi sebab kelabilan ini muncul. Aku merasa takut disetiap
kali hendak bertindak. Terlalu mendengarkan apa yang orang lain katakan, hingga
memadukan dengan perasaan yang tak ingin dikalahkan. Bodohnya diriku mengiyakan
pernyataan-pernyataan bodoh perasaanku sendiri yang terkesan pesimis. Hingga
terbawa pada sikap dan tak menyesuaikan dengan akal pikiran.
Aku
memang jelas salah, apalagi terhadap kalian. Aku sering menghindar dan
menyendiri, karena saat itu aku sedang asyik bercengkrama ria pada diri sendiri
untuk memaknai segala yang telah terjadi.
Sungguh
bukan niatan semata untuk menjauh dari kalian, justru aku merasa bersalah bila
bersama kalian dalam keadaan yang bukan aku sebenarnya. Aku terus merepotkan
kalian dan membuat kalian mengkal. Lagi dan lagi aku ucapkan maaf, hanya itu
yang bisa aku lakukan.
Dan
lagi, trimakasih kalian masih mau menganggap aku teman. Aku sungguh berharap
semua tak akan berakhir detik ini. namun tetap berlanjut hingga kisah kita
masih teringat dihari tua kelak. Entah itu bertahun ataupun berpuluhan tahun
yang akan datang.
Mungkin
kita perlu menyetting masa depan, ah … untuk hal terdekat dulu sajalah, jika
kalian berkenan marilah kita bersama-sama menyetting diri sendiri sesuai dengan
apa yang kita inginkan demi mencapai cita tanpa melupakan banyak pertimbangan.
Setelah kita bisa memaknai realita, perlulah sekiranya kita juga berdamai pada
takdir dan menginvestasi keberhasilan di masa yang akan datang.
Inilah
aku yang aku temukan saat ini.
Wassalamu’alaikum
wr wb
Senin, 07 September 2015
MELAWAN PENJAJAHAN INTELEKTUAL
Nilai
rupiah yang semakin merosot, keadaan pendidikan yang terabaikan, moral yang tak
lagi diutamakan, hingga permasalahan politik yang semakin rumit, dan masih
banyak lagi yang lebih parah dari ini. Keadaan bangsa yang semakin
memprihatinkan ini perlulah kita tenggok dan resapi sejenak untuk membangunkan
kesadaran kita yang telah lama memilih nyenyak tertidur di tengah dentuman
perang dunia yang tak lagi menggunakan senjata namun lebih berbahaya.
Persaingan antar negara masa kini bukan lagi menganai perluasan wilayah
kekuasaan secara geografis, melainkan persaingan dalam berbagai bentuk yang
terkemas apik dan menggunakan akal untuk
dapat mengusai dunia. Negara-negara tetangga sudah jauh lebih awal memulai
untuk merintis strategi dalam menghadapi perubahan dunia yang semakin lama
semakin kejam ini, dengan berbagai kecanggihan teknologi yang lebih dituhankan,
membuat negara-negara maju tersebut dapat dengan mudah menjajah negara berkembang.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia ?
Saat
ini bukan lagi masalah kepemimpinan yang diincar oleh negara lain yang hendak
menguasai dunia, bukan juga permasalahan senjata, militer ataupun batas
wilayah. Penjajahan intelektual sesungguhnya jauh lebih menakutkan bagi
Indonesia untuk menghadapi bangsa lain. Tidak lagi otot yang digunakan, tetapi
otak yang berwawasan luas dan intelektual yang diperlukan bangsa ini untuk
mampu mengikuti perkembangan zaman dengan berbagai gencatan persaingan.
Untuk
melakukan sebuah perubahan besar, tidak lepas dari perubahan kecil yang lebih
dulu diperlukan bangsa ini. Berawal dari satu peran yang sangat penting
dilapisan masyarakat yang dipercaya dapat memberikan inovasi baru dengan
kekreatifannya yang selalu ditunggu-tunggu. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa,
yang selama ini disebut-sebut sebagai agent of change, agent of control dan
iron stock. Peran penting yang disandang mahasiswa ini bukanlah hanya
sekedar sandangan belaka, melainkan ada sebuah harapan dan tuntutan di balik
sebutan itu.
Sebelum
jauh merabah ke perubahan besar bagi bangsa Indonesia, mahasiswa seharusnya terlebih
dahulu menyadarkan diri akan identitas yang diembannya. Menyesuaikan kemampuan
diri dengan tuntutan yang dihadapinya, menjadi ilmuan yang cemerlang, kritis
terhadap berbagai permasalahan yang muncul, konstruktif terhadap setiap
kebijakan yang diambil, dan bermoral serta bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.
Itulah yang seharusnya dilakukan, namun pada realitanya untuk masalah akademisi
saja mahasiswa lebih memilih tidur nyenyak dalam ketidakjujuran akademis.
Lantas, bagaimana dengan kepekaan sosial yang seharusnya dilakukan mahasiswa ?
Kemerdekaan
yang dimaksudkan para pahlawan sesungguhnya bukanlah hanya kemerdekaan pada
keadaan bebas dari penjajahan Negara-negara komunis ataupun sekedar mengumandangkan
proklamasi semata, melainkan juga merdeka dari belenggu keterpurukan untuk
berwawasan luas dan intelektual. Maksud
dan tujuan yang begitu mulia dari berbagai perjuangan bangsa terdahulu ini
perlulah kita ketahui untuk menyadarkan diri dari segala tipuan sesaat yang
menidurkan kita dari serentetan realita yang harus dibenahi.
Keadaan
yang memanjakan dan terus meninabobokkan kita dari segala bentuk kesadaran tak
henti-hentinya menyita kemampuan kita yang sebenarnya bisa kita miliki. Lalu
apa yang perlu dilakukan oleh mahasiswa sekarang ? atau mereka tetap memilih
tertidur nyenyak tak menghiraukan persaingan dunia yang semakin canggih. Ah …
jangankan berbicara persaingan dunia, untuk sadar akan identitas diri dan
bersikap mandiri saja mereka lebih membiarkan kemampuan yang tak sesuai dengan
tuntutan tetap berlangsung.
Semua
itu tidak akan terjadi bila mahasiswa sejak awal sadar terhadap apa yang akan
dihadapinya dalam mengemban nama sebagai MAHASISWA. Mengenal dinamika kampus
yang akan dihuninya dalam menimba ilmu. Siap menjadi generasi berintegritas
bagi bangsa dengan berwawasan luas, sikap peka sosial dan kritis terhadap berbagai permasalahan yang muncul.
Bertanggungjawab terhadap kebijakan yang
diambil dan bermoral serta bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa.(Choirotul Umayah)











